Understanding Risk On/Risk Off : Sinyal Penting Buat Trader
Dalam dunia trading dan investasi, ada dua istilah penting yang sering muncul ketika market sedang bergerak kuat: Risk On dan Risk Off.
Kedua istilah ini sebenarnya sederhana, tetapi dampaknya sangat besar karena mempengaruhi:
-
arah modal global,
-
kekuatan mata uang,
-
pergerakan komoditas,
-
dan bahkan sentimen di seluruh pasar keuangan.
Buat trader, memahami konsep ini adalah wajib, karena ini salah satu kunci membaca arah market tanpa perlu menebak-nebak.
Mari kita bahas dengan penjelasan yang paling mudah dipahami.
1. Apa Itu Risk On?
Risk On adalah kondisi ketika pelaku pasar sedang berani mengambil risiko.
Artinya, investor percaya kondisi ekonomi membaik atau setidaknya stabil.
Ketika market memasuki mode Risk On, modal global mengalir ke aset yang menghasilkan return lebih tinggi, meski lebih berisiko.
Aset yang Menguat Saat Risk On:
-
Saham (global indices: S&P 500, NASDAQ, DAX)
-
Cryptocurrency
-
Komoditas industri (tembaga, minyak)
-
Mata uang berisiko:
-
AUD
-
NZD
-
CAD
-
GBP
-
-
Emerging markets (IDR, MYR, INR) cenderung stabil atau menguat
Aset yang Melemah:
-
USD (biasanya)
-
JPY
-
CHF
-
Emas
Kenapa?
Karena trader keluar dari “tempat aman” dan memilih aset yang lebih agresif demi potensi profit lebih besar.
2. Apa Itu Risk Off?
Risk Off adalah kondisi ketika pelaku pasar menghindari risiko karena takut ketidakpastian.
Biasanya terjadi saat ada:
-
krisis geopolitik,
-
ancaman resesi,
-
data ekonomi buruk,
-
kebijakan bank sentral yang agresif,
-
atau berita yang memicu panik.
Pada saat ini, investor ingin satu hal: keamanan.
Aset yang Menguat Saat Risk Off:
-
USD (raja safe haven)
-
JPY
-
CHF
-
Emas
-
Obligasi AS (US Treasury)
Aset yang Melemah:
-
Saham
-
Crypto
-
Mata uang berisiko (AUD, NZD, CAD)
-
Komoditas industri
Risk Off biasanya ditandai dengan:
-
volatilitas tinggi,
-
gap harga besar,
-
turun mendadak pada aset berisiko,
-
dan lonjakan permintaan safe haven.
3. Kenapa Risk On/Risk Off Penting untuk Trader?
Karena dua mode ini menentukan arah besar market.
Jika kamu hanya fokus pada analisis teknikal tanpa memahami sentimen global, kamu bisa:
-
melawan arus besar,
-
entry di waktu yang salah,
-
dan bingung kenapa setup bagus tetap gagal.
Contoh sederhana:
Jika sedang Risk Off → USD kuat → pair seperti EUR/USD cenderung turun.
Jika sedang Risk On → aset berisiko naik → pair AUD/USD cenderung menguat.
Dengan memahami mood market, kamu bisa membaca arah lebih jelas.
4. Bagaimana Cara Mengetahui Market Sedang Risk On atau Risk Off?
Beberapa tanda gampang yang bisa dipakai trader:
A. Lihat pergerakan indeks saham
-
S&P 500 naik kuat → Risk On
-
S&P 500 anjlok → Risk Off
B. Lihat emas (XAU/USD)
-
naik → Risk Off
-
turun → Risk On
C. Lihat USD & JPY
-
USD/JPY turun → Risk Off (JPY menguat)
-
USD/JPY naik → Risk On
D. Lihat komoditas
-
minyak dan tembaga naik → Risk On
-
turun tajam → Risk Off
Cukup dengan empat indikator ini saja, kamu sudah bisa membaca arah mood pasar dengan akurat.
5. Kapan Risk On dan Risk Off Sering Terjadi?
Risk On sering muncul ketika:
-
data ekonomi membaik
-
inflasi turun
-
Fed dovish atau potensi rate cut
-
geopolitik stabil
-
optimisme pasar tinggi
Risk Off sering muncul ketika:
-
krisis terjadi
-
perang atau konflik meningkat
-
inflasi naik tajam
-
Fed hawkish
-
data ekonomi buruk
-
market panik atau rumor negatif menyebar
Kesimpulan: Memahami Sentimen adalah Kunci
Risk On = pasar berani → aset berisiko naik
Risk Off = pasar takut → safe haven naik
Memahami dua kondisi ini membantu kamu:
-
membaca arah besar market,
-
masuk di waktu yang tepat,
-
menghindari entry melawan arus,
-
dan mengurangi loss yang tidak perlu.
Sentimen adalah bahan bakar market.
Teknikal hanya membantu kita mengatur timing.

Komentar
Posting Komentar